Jumat, 14 November 2014

Malam itu, tiba-tiba aku tertegun melihat hamparan warna putih di depan mata. Lautan busa yang diam, sesekali bergoyang ringan disentuh angin, menunggu waktu untuk merekah, dan menerbangkan ribuan kupu-kupu yang selama beberapa waktu bertapa di dalamnya.
Aku tahu itu hanya mimpi. Bagi sebagian orang, mimpi hanyalah bunga tidur. Bagi Freud dan Jung, mimpi adalah refleksi dari pikiran kita sendiri yang terpendam. Sementara bagi sebagian yang lain, mimpi adalah pembawa berita. Pembawa kabar yang tak berbicara secara langsung, melainkan mempersilahkan kita untuk mencari maknanya sendiri.
Aku menyukai Jung. Menyukai caranya dalam menerjemahkan mimpi. Menurut Jung, setiap orang dapat menafsirkan mimpi sesuai dengan pengalaman hidupnya. Mimpi bukan sesuatu yang ditafsirkan secara saklek benar-salahnya. Ia hanyalah jendela, untuk menjenguk ke dalam rahasia yang kita pendam sendiri, jauh di dasar benak, jauh dari jangkauan orang lain; bahkan dari jangkauan diri. Ia adalah penyambung antara alam dengan diri kita; sehingga yang terjadi di alam, dapat kita baca.
Biasanya aku tak risau, sekalipun dihampiri mimpi yang luar biasa buruknya. Karena aku belajar, bahwa semua hal terkait dengan diri sendiri, dan bahwa kitalah pemegang kendali. Bukan makhluk halus, bukan peri, bukan jin, bukan siapapun. Aku menikmati cara berpikir yang menjadikan manusia sebagai pemegang kendali, sebagai orbit semesta, dan bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam dapat dijelaskan. Tanpa ada tahayul atau misteri di dalamnya.

aku suka kata2nya jadi ini copas punya orang laiinnn: ini penulisnya yaa http://mywritingpaths.wordpress.com/2012/11/22/catatan-perjalanan-1-waktu/#comment-789